pernahkah anda merasakan sebuah kepedihan yang teramat sangat mendalam
membuat kita kehilangan kata kata untuk merepresentasikan diri selain kalimat "tidak bahagia"
sebuah obrolan malam jumat dengan grace samboh, seorang teman baik, bersama beberapa botol bir dingin cukup mampu mendeskripsikan
bagaimana sebuah rumah sebagai tempat tinggal tidak mampu lagi memberikan rasa nyaman untuk kita huni ... dimana setiap hari kita bertemu orang yang itu itu juga, namun hubungan yang terjadi amatlah kering, seperti unggun tanpa bara ... bahkan hingga lebih dari 30 tahun
namun layaknya simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati ... keputusan mengambil tindakan atas hal tersebut adalah sebuah pertaruhan besar atas kehidupan diri kita
... ... ...
hari ini saya sudah mengambil keputusan, walaupun belum menjadi sebuah tindakan resmi
saya berpikir, resiko terbesar yang saya hadapi hanyalah meninggalkan zona aman dalam diri saya ... paling banter saya keleleran dan mati kelaparan trus dimakan anjing (aih ... mulai lebay deh)
tapi seperti dikatakan oleh grace samboh ... tidak akan pernah ada yang mampu menyelamatkan diri saya selain saya sendiri ... sesuatu hal yang sebenarnya dikatakan grace juga untuk menguatkan dirinya sendiri juga
meninggalkan rumah mungkin ujian terbesar dalam hidup saya
saya pernah beberapa kali meninggalkan rumah, namun itu dengan kesadaran bahwa rumah itu akan selalu menerima saya kembali
namun berbeda dengan kali ini ... ketika saya sendiri merasakan sudah bukan lagi menjadi bagian dari rumah tersebut selain sebagai "tamu tetap"
dan meninggalkannya akan menguji seberapa saya mampu bertahan hidup
ibarat orang nias yang ujian kedewasaannya adalah melompati batu besar setinggi rumah, saya pun akan berusaha melompatinya ... paling celaka saya akan jatuh dan terluka ... namun jika benar benar tidak mampu saya akan menghancurkannya, seperti mekanisme yang sudah seringkali saya lakukan dalam banyak hal
kemungkinan besar bulan depan saya akan mencari kontrakan entah di rumah susun entah di rumah petak ... semiskin miskinnya ya kost dengan beberapa fasilitas "wajib"
disini saya akan mengatur hidup saya sendiri ... mengelola zona aman dan nyaman saya serta membangun otoritas ruang pribadi untuk diri saya ... bahkan juga memberikan ruang untuk bersarang bagi perempuan yang saya sayangi
di titik ini apapun penyesalan itu ... itu akan menjadi lebih baik karena itu akan menjadi penyesalan atas apa yang saya lakukan dan bukan sebagai penyesalan atas apa yang tidak saya lakukan
semoga tuhan merestui
